Langsung ke konten utama

Postingan

Jejak Badut di Kota Hujan

Ilustrasi Foto melalui situs,  catatanbaskoro.wordpress.com karena dokumentasi hilang. Sesapan kopi mengawali segar udara pagi itu. Tepat pukul 06.00, Rian (23) sibuk mengemasi perlengkapan badutnya. Demi mengganjal perut hingga tengah hari nanti, sebungkus nasi uduk pun rupanya ia santap. Tak hanya sendiri, dalam hunian petak itu pria berperawakan tegap dan tak terlalu tinggi itu tinggal bersama kakak sepupu, serta rekan badut lainnya. Sindang Barang Jero, menjadi titik tolak keberangkatan untuk mengais rupiah di jalan. Kali ini ia akan menghibur orang-orang di Lapangan Sempur Bogor. Setiap Sabtu dan Minggu tempat tersebut merupakan sasaran pertama yang disinggahinya. Berikut doa serta harap yang terpanjat, kuda besinya pun siap melaju. Meski pekerjaan ini terbilang sederhana, nyatanya Rian dan kawan-kawan tetap memperhartikan kebersihan dan kerapian kostum. Seperti malam sebelumnya. Usai melepas penat di tengah malam, ia menyempatkan untuk mencuci sebagian...

Kacamata Seorang Agen Koran: Tetap Eksis dalam Roda Modernitas yang Terus Melaju

        Ilustrasi Foto: pixabay.com “Koran..koran..koran....” Suara khas seorang loper koran kala itu terdengar di tengah terik. Selain dipadati berbagai kendaraan, di sela itu juga para pedangang ramai menjajakan dagangannya. Tak terkecuali pedangang koran. Pemandangan itu rupanya selalu menarik perhatian. Tepatnya di sisi jalan kawasan Taman Topi Bogor. Di era informasi dan teknologi seperti sekarang ini terkadang membuat miris. Bukan berarti Koran tak laku lagi. Namun perkembangan itu sebenarnya turut berpengaruh terhadap minat membaca. Sampai saat ini nyatanya wajah persuratkabaran masih kita temui. Seperti apa yang sempat diprediksikan dulu, media cetak akan mati menjelang tahun dua ribu dua puluhan. Memang, di sejumlah media luar negeri hal itu sudah terjadi. Akan tetapi, konvergensi media nyatanya menjadi siasat cerdik untuk bisa mempertahankan eksistensi sebuah surat kabar harian di tanah air ini. Sedari tadi, saya melihat seorang Bapak ...

Sekolahku di Kolong Langit

Seteduh cuaca langit sore itu. Kumpulan asa anak-anak Kampung Ciheleut menyembul bak gumpalan kapas putih yang semarak memayungi Kota Hujan. Di wilayah Kecamatan Bogor Timur, sebagian dari mereka yang terpinggirkan boleh jadi bisa tersenyum lepas, karena dapat banyak belajar dan menikmati kehangatan bermain bersama teman-teman seperti pada umumnya. Begitu lincah kaki-kaki telanjang itu riang berlarian ke sana ke mari, setidaknya bukan lagi seperti di sela hari, yang membuat kaki mungil mereka terbius panas aspal dan debu kota yang menyesakkan. Tepatnya di selasar rumput pinggiran jalan Tol Jagorawi KM-6,  kegiatan belajar itu pun dilakukan, berpadu di tengah bisingnya kendaraan. Kini, lagi— sebuah film adaptasi novel “Perahu Kertas” gugahan Dee Lestari, membekaskan decak kagum tersendiri di khalayaknya, melahirkan sang fiksi menjadi sebuah bentuk inspirasi nyata. Sebuah komunitas sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan, bernama Sakola Alit, bertujuan untuk memban...

Ratih Siti Aminah, M.Si. "Maknai Kesetaraan dalam Profesi Wartawan"

Tubuh kita itu akan menggiring kita kepada hal yang kita yakini, itu yang selalu saya yakini di hati. “Kesetaraan Gender” begitulah istilah yang kerap kita dengar di era post-modern ini. Melalui sosok R.A. Kartini, persamaan hak antara kaum lelaki dan perempuan telah diperjuangkan pada zamannya. Kilas dalam sejarah, dulu wanita Indonesia memang dianggap memiliki derajat yang lebih rendah dari pria. Hal itu yang kemudian menjadikan wanita tidak dapat bersekolah serta tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Namun saat ini tentunya peran wanita justru semakin eksis dalam berbagai bidang. Salah satunya, saya bsempat bertemu dengan  seorang wartawan wanita yang bersedia  membagikan pengalamannya. Terkenal dengan salam semangat dan senyumannya yang khas, Ratih Siti Aminah, M.Si., menekuni dunia kewartawanan sejak tahun 1995. Ia juga berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas swasta terbesar di Kota Bogor, dan tetap menjalani kodrati sebagai ibu. Menurut...

Berbagi Cerita Maroon Day 2015: Seven Come Membawa Harapan Baru Bagi HIMNI

Maroon Day kembali dihelat pada 20 Desember 2015 lalu di Gelanggang Olah Raga (GOR) B Padjajaran Kota Bogor. Perayaan ulang tahun Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan itu, merupakan program kerja Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himni). Berbeda dari tahun sebelumnya yang diselenggarakan khusus mahasiswa Ilmu Komunikasi, Maroon Day kali ini diadakan di luar kampus dengan melibatkan jajaran dosen, mahasiswa Ilmu Komunikasi, himpunan mahasiswa, serta dibuka umum. Acara itu pula dihadiri Dr. H. Bibin Rubini, M.Pd, selaku Rektor Unpak. “ Tema tahun ini S even C ome. Menandakan ulang tahun y ang ke7 ,” ujar Ketua Pelaksana, Naufal Ichvanda Maulana, semester 5 jurusan Broadcast. Naufal memaparkan, Himni kian mendewasa. Walaupun ego dan idealis bercampur dalam prosesnya, suasana kekeluargaan dan kekompakan semakin terasa menjelang hari-H.

Di Balik Best Seller Sebuah Karya

gambar: pixabay Menjelajah dunia literasi tentu kita diajak membaca ragam tulisan. Karya tulis dianggap sebagai wadah untuk menuangkan pikiran, gagasan, dan merupakan sebuah refleksi dari fenomena yang akan maupun yang telah terlewati. Dalam hal itu, kita sebut saja buku menjadi sewujud karya buatan penulis. Apresiasi darinya bisa berbentuk penjualan yang melejit, hingga buku kerap mengalami cetak ulang dalam rentang tahun tertentu.

Ulik Mata Kuliah Baru Jurusan Sastra Indonesia

Gambar Ilustrasi : Sinematografi Universitas Pakuan , Bogor – Menjadi wacana, Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya akan mengadakan mata kuliah Sinematografi pada tahun ajaran baru (25/06/2015). Pelaksanaan pemutaran serta pengkajian film fiksi oleh Himpunan Sastra Indonesia (Himsina) beberapa waktu lalu di gedung FISIB pun turut mensinyalir adanya wacana tersebut. Dilansir dari harian Beranda pers , Ketua Pelaksana Suci Putri mengatakan, “Tujuan acara ini sekaligus ingin memperkenalkan adanya mata kuliah baru di jurusan kami, yaitu Sinematografi” (9/6). Ketua Himsina Rama, mengaku belum bisa menanggapi banyak mengenai mata kuliah baru tersebut. “Bagus ya. Jadi Sastra itu luas, tidak sekedar bermain dalam novel dan cerita saja,” katanya. Hasil penelusuran, menurut salah satu Dosen Sastra Indonesia Drs.Sasongko S. Putro, MM., Mata Kuliah Sinematografi ini tidak mengkaji dari segi teknis pembuatan film, karena itu merupakan ranah Ilmu Komunikasi. M...